Kampung Dadapsari terletak di pusat kota Solo, berdekatan dengan pusat perekonomian kota seperti Pasar Gedhe, Pasar Klewer, dan Pusat Grosir Solo (PGS). Selain berlokasi dengan pusat perekonomian kota Solo, kampung Dadapsari Sangkrah Solo juga berdekatan dengan pusat pemerintahan Kota Surakarta. Di sebelah selatan kampung Dadapsari juga terdapat Stasiun Solo Kota atau sering juga disebut dengan Stasiun Sangkrah.

Kampung Dadapsari merupakan kampung padat penduduk, mayoritas penduduknya merupakan warga pendatang dari daerah daerah sekitar kota Solo. Kedatangan penduduk dari luar kota Solo ini di mulai sejak tahun 70-an hingga saat ini. Hal ini terjadi di karenakan daerah kampung Dadapsari Sangkrah Solo sangatlah strategis karna berdekatan dengan pusat perekonomian kota Solo, pusat pemerintahan kota Surakarta dan pusat kebudayaan kraton Solo. Kepadatan kampung Dadapsari pada saat ini dapat di lihat dari rumah rumah saling berhimpitan satu dengan yang lainnya. Seperti kota kota yang berkembang lainnya, kampung Dadapsari merupakan perkampungan kaum marginal perkotaan di mana permasalahan sosial hampir tidak tersentuh oleh pihak pemerintahan. Permasalahan sosial yang timbul selalu di selesaikan dengan cara cara represif hukum, hanya penyelesaian penyelesaian sesaat dan tidak menyentuh sama sekali akar permasalahan yang ada di masyarakat. Pemerintah hanya memfokuskan diri dengan pembangunan pembangunan infrastruktur.

Minum minuman keras, perjudian, kenakalan remaja merupakan bagian dari wajah kampung Dadapsari Sangkrah Solo. Hal ini semakin diperburuk dengan catatan kriminal di Kepolisian Kota Surakarta. Di Polsek Pasar Kliwon, peta wilayah dimana kampung Dadapsari berada diberi pita merah sebagai penanda bahwa lokasi yang dimaksud memiliki catatan kriminal yang cukup tinggi. Beberapa warganya memiliki catatan kriminal seperti penjambretan, pengguna atau penggedar narkoba, kejahatan dengan kekerasan, minuman keras, perjudian, aksi premanisme dan masih banyak lagi catatan kriminal yang berada di kepolisian kota Solo.

Sejak puluhan tahun daerah Dadapsari Sangkrah Solo di cap atau di identikkan sebagai daerah yang negatif atau daerah hitam. Penyebutan daerah hitam ini bersifat gebyah uyah atau disama ratakan apabila seseorang dari kampung Dadapsari sudah dipastikan orang orang yang berprilaku negatif dan buruk. Berdasarkan cerita salah satu warga yang memiliki pengalaman kesulitan mencari pekerjaan hanya dikarenakan bertempat tinggal di kampung Dadapsari Sangkrah Solo. Pada akhirnya dia mendapatkan pekerjaan ketika dia sudah berpindah tempat tinggal. Hal hal yang mendasar inilah yang terkadang memicu dan berkembang menjadi permasalahan sosial di tengah tengah masyarakat. Tidak sedikit diantaranya mengambil jalan pintas dengan melakukan tindakan kriminal yang pada akhirnya berurusan dengan pihak yang berwajib.

Secara mayoritas penduduk kampung Dadapsari berpendidikan setingkat SMA dan bahkan yang hanya berpendidikan akhir hanya sekolah dasar pun ada, banyak dari mereka tidak memiliki suatu keahlian khusus sehingga dari jenis pekerjaan yang mereka geluti adalah pekerja kasar atau buruh di banyak perusahaan di kota Solo dan sekitarnya. Bahkan ada beberapa anak mudanya merupakan pemuda putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi.

Dari lingkungan yang kurang menyehatkan bagi anak anak dan remaja untuk tumbuh dan berkembang maka beberapa pemuda dari kampung Sangkrah berinisiatif untuk merubah perwajahan kampung untuk lebih baik. Para pemuda yang berinisiatif untuk melakukan perubahan tersebut pernah mengalami masa masa kelam dimana mereka hanya bisa mengikuti arus yang ada. Pola pola yang terbentuk sejak puluhan tahun itu pada akhirnya menyeret mereka ke dalam dunia hitam dan bahkan menyeret mereka ke masalah hukum.

Bentuk keprihatinan ini mengerucut kepada kesadaran akan kebutuhan suatu tempat atau lokasi yang benar benar baik untuk perkembangan anak anak dan remaja. Bukan suatu perkara mudah untuk mencarikan suatu tempat atau lokasi yang bisa di gunakan untuk anak anak dan para remaja berkegiatan positip. Dengan kondisi lingkungan yang hampir tidak menyisakan ruang, pencarian lokasi yang dimaksud menjadi tantangan yang cukup luar biasa sulitnya. Pencarian satu lokasi yang baik ini di dasarkan atas tidak tersedianya pilihan bagi anak anak dan para remaja beraktifitas. Hanya jalanan kampung sebagai tempat bermain anak anak. Hanya tongkrongan tongkrongan yang berbau alkohol sebagai lokasi berkumpulnya para remaja.

sejarah-kerjabakti

Setelah melakukan pencarian beberapa tempat di seputaran kampung Dadapsari, akhirnya perhatian tertuju kepada satu lokasi di sudut terluar kampung, bekas pos ronda berukuran 1,5m x 2,5m yang telah lama tidak digunakan. Proses selanjutnya adalah meminta ijin kepada warga melalui rapat rapat RT dan rapat RW. Setelah ijin di dapat, secara bersama sama kami bergotong royong mempersiapkan tempat yang akan digunakan sebagai perpustakaan. Membersihkan tempat, mengecat ulang, memberikan ornamen gambar lukisan di dinding, membenahi atap, membuat rak buku, lincak bambu dan lain sebagainya. Pembenahan lokasi untuk rumah baca dilaksanakan secara bertahap dikarenakan kami memang memiliki keterbatasan di dalam hal pendanaan. Jadi ketika ada yang menyumbang dana untuk rumah baca biasanya kami wujudkan untuk kelengkapan rumah baca seperti pembuatan area baca baik yang dari lincak bambu (tempat duduk dari bambu) beserta atapnya atau keramik, pembelian almari, meja, pembuatan rak buku dari kayu agar kokoh (sebelumnya kami menggunakan papan dan melengkung), dan beberapa fasilitas penunjang seperti koneksi internet dan TV yang kami gunakan untuk pendidikan audo visul untuk anak anak.

 Dari cara konvensional yaitu dengan menghubungi teman kami satu persatu untuk membantu pembuatan perpustakaan kampung, akhirnya kami menggunakan media sosial seperti facebook dan twitter. Beberapa photo kami upload di media sosial. Beragam tanggapan dan respon dari teman teman media sosial. Seluruhnya menyambut baik dari rencana yang sedang kami laksanakan pada waktu itu, dari komentar menyemangati apa yang sedang kami kerjakan sampai pada memberikan pesan secara prbadi melalui inbox facebook atau twitter. Teman teman kami di media sosial meminta ijin untuk bisa terlibat langsung di dalam pendirian perpustakaan kampung dengan memberikan bantuan berupa buku buku, dana (seperti yang sudah kami terangkan di atas, bantuan dana kami manfaatkan untuk membeli kelengkapan perpustakaan seperti almari, meja, alat edukasi anak, whiteboard, alat tulis dan juga kami manfaatkan juga untuk pembangunan area baca disekitar perpustakaan), bambu, keramik, dan lain sebagainya.

Dan pada akhirnya pada hari Jum’at, tanggal 17 Januari 2014 perpustakaan kampung yang diberi nama RUMAH BACA “TERATAI” mengadakan acara syukuran dan peresmian. Bapak walikota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo yang pada waktu itu kami undang tidak dapat hadir, maka acara peresmian diwakilkan kepada bapak Drs. Agus Santoso, Kepala Kecamatan Pasar Kliwon, Kapten (Inf) Supardi, Komandan Koramil 05/Pasar Kliwon dan Bapak Singgih Bagjana, Kepala Kelurahan Sangkrah. Pada acara tersebut di isi sambutan sambutan dari Dicky Bangun Aditdaya ketua Karang Taruna RW.III Sangkrah, Bapak Sutarjo Ketua RW.III Sangkrah, dan Bapak Drs. Agus Santoso Kepala Kecamatan, pemotongan tumpeng, pemotongan selubung sebagai simbolik Rumah Baca “Teratai” di buka untuk umum, dan pembuatan kartu anggota untuk yang pertama untuk Kepala Kecamatan Pasar Kliwon, Komandan Koramil 05/Pasar Kliwon dan Kepala Kelurahan Sangkrah yang dilanjutkan dengan peminjaman buku. Penghibur pada acara ini adalah group keroncong BGW’SS yang merupakan group keroncong dari warga masyarakat kampung Sangkrah.

sejarah-peresmian

sejarah-peresmian2

Di bulan yang sama yakni di bulan Januari 2014, beberapa wilayah di Indonesia banyak mengalami bencana alam. Rasa kemanusiaan dan kepedulian kami tergerak untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan beban para korban bencana alam. Maka di rancanglah sebuah aksi sosial kepedulian bencana di dua kota sekaligus yakni Solo dan Yogyakarta yang hasilnya akan kami kirimkan ke daerah bencana. Di Solo kami bekerjasama dengan Mayor Haristanto mengadakan acara di Car Free Day minggu pagi dan di jogja kami bekerja sama dengan Djatishop Jogja, Komunitas Slanker dan Reggae Yogyakarta, dan AURI Lanud Adi Sucipto Yogyakarta. Daerah bencana yang kami pilih untuk mengirim bantuan adalah daerah Manado Sulawesi Utara.

sejarah-peduli-bencana

Acara aksi sosial peduli bencana ini merupakan program kegiatan pertama dari Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah dan cikal bakal dari seluruh program kegiatan yang di gagas oleh Rumah Baca “Teratai” berikutnya. Kami melihat potensi yang luar biasa dari anak anak muda di kampung Sangkrah yang belum tergali.

Sebagai gambaran umum dari Kampung Dadapsari Sangkrah Solo merupakan perkampungan padat penduduk ciri khas kaum urban, tingkat perekonomiannya menengah ke bawah, memiliki permasalahan sosial yang cukup komplek, tingkat kriminalitas dan narkoba di catatan kepolisian cukup tinggi, tidak memiliki lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak, tidak tersedianya ruang publik yang memadai untuk tumbuh kembang anak anak dan remaja, mayoritas penduduk adalah pendatang, tingkat hunian yang tinggi sehingga rumah saling berhimpitan dan lain sebagainya.

Dengan melihat kondisi kondisi tersebut, pada perkembangannya rumah baca tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan kampung tetapi berkembang menjadi kelompok belajar dan berkarya. Hal ini tak lepas dari semangat yang luar biasa ditunjukkan oleh pemuda pemuda kampung Sangkrah, minat, bakat dan potensi yang mereka miliki. Maka dibuatlah konsep konsep pengembangan dan pemberdayaan dengan bagi anak anak dan pemuda. Sejak bulan Februari 2014 hingga sekarang program program kegiatan Rumah Baca “Teratai” telah dilaksanakan.

Program program kegiatan yang telah dilaksanakan sejak Februari 2014 adalah sebagai berikut :

  • Aksi sosial peduli bencana.
  • Aksi sosial bagi nasi bungkus.
  • Aksi sosial perbaikan gizi anak dan nonton bareng film anak.
  • Program internet untuk rakyat.
  • Program kegiatan olah raga futsal.
  • Program penyuluhan HIV/AIDS.
  • Lomba bercerita anak tingkat kecamatan.
  • Workshop sehari citizen jurnalisme.
  • Pertunjukan ramadhan Kidung Surakartan bersama Gus Candra Malik Jakarta.
  • Mengangkat potensi kampung dengan membuatkan album rekaman musik keroncong.
  • Pelatihan bahasa inggris.
  • Pelatihan design grafis.
  • Pelatihan seni karawitan.
  • Pelatihan musik vokal.
  • Pelatihan musik perkusi dari barang bekas.
  • Pelatihan seni teater atau teater anak.
  • Pelatihan resin atau fiberglass.
  • Pelatihan airbrush.

Beberapa kegiatan yang masih dalam tahap perencanaan untuk dilaksanakan untuk beberapa waktu ke depan antara lain

  • Pelatihan bahasa jawa.
  • Pelatihan sastra.
  • Pelatihan di bidang grafis (pembuatan komik).
  • Pelatihan sablon.
  • Pelatihan nyanting batik.
  • Pelatihan musik akustik.
  • Group cerita anak.

Karya yang hendak di buat oleh Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah antara lain :

  • Pelestarian budaya jawa melalui lagu dolanan anak.
  • Film indie drama musikalitas anak.
  • Album rekaman lagu anak anak.
  • Buku kumpulan puisi karya anak Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah.
  • Buku kumpulan cerpen (cerita pendek) karya anak Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah.
  • Buku komik bergambar karya anak Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah.
  • Buku sejarah kampung Sangkrah karya anak Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah.

Wirausaha yang akan dikembang oleh Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah dalam rangka menuju kemandirian antara lain:

  • Usaha Sablon
  • Usaha airbrush
  • Usaha resin/fiberglass.

Dari kelompok seni, kami berencana akan mengadakan pertunjukkan:

  • Dari kelompok teater anak, perkusi barang bekas dan vokal sebulan sekali akan mengadakan pertunjukkan di acara Car Free Day Jalan Slamet Riyadi, Taman Balekambang atau di Pelataran Stadion Manahan.
  • Festival Kesenian Anak dengan mengundang kelompok kesenian anak di sekitar kota Solo. Acara ini diharapkan menjadi acara rutin tahunan.
  • Pasar Seni Rakyat di kampung Sangkrah Solo. Di dalam pasar seni ini akan diadakan pertunjukan seni selama tujuh malam berturut turut dan pasar kerajinan rakyat. Acara ini akan kami jadikan acara tahunan.
  • Kompetisi Dolanan Anak. Kami akan membuat suatu kompetisi khusus dolanan anak jaman dahulu. Peserta kompetisi berasal dari kota Solo dan sekitarnya. Acara ini diharapkan menjadi acara rutin tahunan.
  • Kelompok teater anak “Semut Abang”, kelompok teater anak Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah Solo berencana akan mengadakan pertunjukan keliling dari kampung ke kampung. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan hiburan gratis kepada masyarakat dan menumbuhkan rasa berkesenian dari masyarakat.
  • Kidung Surakartan. Kidung Sukacita Ramadhan Kerakyatan, dengan bekerja sama dengan Omah Sinten Heritage Hotel & Resto akan mengadakan acara rutin di setiap bulan ramadhan dengan berkesenian.

Dengan melihat perkembangan yang terjadi, penggunaan nama Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah untuk mengampu seluruh kegiatan yang sedang berjalan atau yang akan dilaksanakan di waktu mendatang maka diperlukan sebuah nama baru untuk mengampu seluruh kegiatan kegiatan tersebut. Ke depan kami akan menggunakan nama KELOMPOK BELAJAR & BERKARYA “ABANG PUTIH”, sedangkan untuk Rumah Baca “Teratai” kampung Sangkrah dikembalikan fungsi sebagai perpustakaan kampung dibawah Kelompok Belajar & Berkarya “Abang Putih”. Penggunaan kata ABANG PUTIH lebih mengaju kepada rasa nasionalisme yang tinggi dan rasa kebangsaan. Untuk singkatan Abang Putih sendiri adalah Anak Bangsa Pemuda Terlatih.

logo-abangputih

Beberapa kendala utama yang kami miliki adalah tidak adanya ruang publik yang bisa kami pergunakan untuk melaksanakan kegiatan. Tidak jarang kami menggunakan badan jalan kampung. Penggunaan lokasi badan jalan yang sangat ramai dengan aktivitas warga ini sangatlah tidak efesien karna seringkali ditengah tengah pelatihan harus berhenti karna suara bising kendaraan yang berlalu lalang dan hal ini tentu mengurangi konsentrasi peserta pelatihan. Kebutuhan akan tempat ini benar benar kami rasakan setelah kami menjalankan banyak kegiatan kemasyarakatan. Kami berencana akan membangun sebuah ruangan di atas bangunan sekarang dan diatas jalan sehingga kami dapat melaksanakan program program kegiatan yang kami miliki. Untuk keperluan mendirikan bangunan yang akan dipergunakan oleh rumah baca di dalam berkegiatan tentunya memerlukan pembiayaan yang sangat besar, kami berharap mendapat bantuan dari semua pihak yang bisa mewujudkan tempat kami di dalam menjalankan program program kegiatan pemberdayaan untuk masyarakat.